Masuk

Ingat Saya

BILA HATI YANG BICARA*)

BILA HATI YANG BICARA*)
Pradono saat membaca puisi Bila Hati yang Bicara pada acara Pelatihan Jurnalistik Damai oleh FKPT Kalbar - BNPT, Rumah Melayu Pontianak, 26 Agustus 2015. (foto: Nur Iskandar)

Pradono saat membaca puisi Bila Hati yang Bicara pada acara Pelatihan Jurnalistik Damai oleh FKPT Kalbar – BNPT, Rumah Melayu Pontianak, 26 Agustus 2015. (foto: Nur Iskandar)

oleh Pradono

Wahai Anak Negeri
Tegarlah terus berkreasi
Bangunkan bangsamu lewat seni

Walau ia selalu tak peduli
Walau ia sibuk menguras uang negeri

Jangan jadikan dirimu kelinci percobaan
Jangan harga dirimu kaugadaikan
Masih banyak jalan untuk menjadi manusia

Wahai Anak Negeri
Tekadkan jiwa kembali ke hati
Demi eratkan jabat tangan
Demi satukan persaudaraan

Tiada kata tanpa makna bila hati yang bicara
Satukan langkah rapatkan barisan
Padamkan dendam ulaskan senyuman

Sebab Tuhan Maha Penyayang
Kenapa nyawa harus melayang
Sebab Tuhan Maha Penyabar
Kenapa kita jadi gusar

Allahu Akbar
Selamatkan jiwa yang hanya selembar
Siramlah amarah yang berkobar
Padamkan dendam dengan cahaya sabar

(Rekatkan Indonesia, Damaikan Bumi Kalbar)

Wahai Negeri
Jangan cerai beraikan anakmu
Dengan saling benci dan caci maki

Wahai Pertiwi
Jangan asahkan pedang dan belati
Merampas hidup sesama kami
Hingga jiwa tak berharga lagi

Wahai Indonesia
Masih bisakah kita saling bicara
Masih sanggupkah kita jadi manusia

Lantaran negeri ini milik kita
Kenapa harus dihancurkan
Ke mana lagi kaki berdiri
Bila pijakan menjadi bara api

Wahai manusia yang bernama manusia
Haruskah airmata tercurahkan
Untuk sesuatu yang tak terpahamkan
Sudah berhentikah manusia sebagai manusia

Apakah arti kehidupan bila hati tak lagi manusia

Wahai Khatulistiwa
Jalin kembali zamrud
yang tercerabut dari leher Enggangmu

(Suarakanlah Merdu Etikamu)

tanah gambut, 27 maret 2001

*) Puisi ini dibacakan pertama kali sebagai “Orasi Kampanye Anti Kekerasan lewat Seni” oleh Seni Rakyat Anak Kapuas (SERAK) Pontianak, di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu, 31 Maret 2001.

Dengan